Feeds:
Pos
Komentar

Tips Cara menghukum anak memang cukup beragam. Perbedaan perilaku anak hingga pemahaman orang tua dalam mendidik menentukan hukuman yang terjadi. Bagi Anda para orang tua, hukuman yang dimaksud tentu ditujukan demi kebaikan anak, bukan untuk menciptakan trauma berkepanjangan.

Jika dilihat lebih dalam, perilaku anak akan sangat bergantung pada usia, kepribadian, maupun perkembangan fisik dan emosionalnya. Tetapi suatu perilaku bisa dinilai bermasalah ketika dianggap tidak sesuai dengan harapan keluarga, atau jika mengganggu anak itu sendiri.

Kecenderungan Anak
Namun yang mesti Anda ingat, penentuan “normal dan tidaknya” perilaku anak ditentukan oleh faktor sosial, budaya, dan perkembangannya sendiri. Sehingga dengan mengetahui pola perkembangan anak pada usianya masing-masing, Anda diharapkan dapat memutuskan: apakah perilaku tersebut perlu diubah atau masih dalam batas kewajaran.

Anak-anak cenderung berperilaku sesuai penghargaan atau pujian atas sikap mereka. Selain itu, jika tidak ditanggapi atau diabaikan, anak-anak tidak akan mengulangi perilaku tersebut. Sehingga bagi para orang tua, adalah penting untuk konsisten memberikan reaksi atas perilaku anak-anaknya. Jika dalam sebuah kesempatan Anda menganggap perilaku menaiki kursi adalah kewajaran, maka di waktu lain Anda tidak bisa menghukum atau menghentikan perilaku tersebut.

Jadi sebaiknya, para orang tua lebih dulu memutuskan perilaku seperti apa saja yang tidak boleh dilakukan, harus dihentikan, atau dianggap lumrah dilakukan anak pada usianya. Mudahnya, Anda hanya perlu menentukan apakah perilaku tersebut berdampak buruk bagi orang lain atau dirinya sendiri? Bila tidak, maka perilaku tersebut masih dalam batas kewajaran.

Tips Cara menghukum anak Kemudian bila anak dianggap berperilaku buruk dan tidak mengindahkan larangan Anda, hukuman pantas diberikan sebagai bagian dari pendidikan anak. Tetapi jangan berpikir bahwa men-strap anak layaknya siswa sekolah, karena hukuman seperti itu hanya mempermalukan anak di hadapan teman-temannya, tetapi tidak secara langsung mendorong anak melakukan perbaikan perilaku.

Benar bahwa hukuman pada anak berarti “memisahkan” anak dari lingkungannya. Tetapi untuk melakukannya, Anda perlu sebuah tempat yang nyaman dan tidak menakutkan, agar hukuman tersebut tidak menimbulkan trauma pada anak. Padahal, membatasi ruang-geraknya saja sudah menjadi hukuman, jadi Anda tidak perlu menambah hukuman lain dengan alasan mendisiplinkan anak.

Kemudian untuk masa waktu hukuman sendiri hanya boleh berlangsung dalam hitungan menit, atau lebih tepatnya mengikuti usia anak yaitu satu menit untuk setiap usia. Jadi semisal anak Anda berusia tiga tahun, masa hukuman yang pantas baginya tidak boleh lebih dari tiga menit. Hal ini karena menghukum anak dalam waktu panjang hanya akan menimbulkan pertanyaan dan imajinasi lain tentang Anda, sebelum anak memutuskan penilainnya sendiri.

Selanjutnya, Tips Cara menghukum anak jelaskan pada anak bahwa perilaku tadi bukan perilaku yang baik, dan ia tidak boleh mengulangi perilaku itu lagi. Jelaskan pula bahwa ia harus menempuh hukuman tersebut karena sudah lalai mengabaikan larangan Anda, dan tidak boleh melakukan aktivitas lain selama waktu hukuman tersebut.

Bagi Anda sendiri, usahakan menggunakan “tempat hukuman” yang mudah dijangkau dan terpantau oleh Anda. Hal ini agar Anda dapat melihat perkembangan anak selama masa hukuman, dan dapat dengan mudah menghentikan hukuman jika batas waktu berakhir.

Nah, semoga beberapa Tips Cara menghukum anak di atas dapat bermanfaat bagi Anda dan anak Anda.

Meningkatkan minat belajar anak

Meningkatkan minat belajar anak sebenarnya tidak terlalu sulit akan tetapi tidak juga mudah. Cara sederhana dalam meningkatkan minat belajar anak adalah kenali hal-hal apa yg disukai oleh anak dan ajak dia melakukan hal tersebut. Padukan hal-hal yang disukai dengan menambahkan pendidikan di dalam nya. Niscaya minat belajarpun meningkat.

Kuncinya adalah mengetahui apa yg dapat membuat anak tertarik dan ingin belajar. Bagi anak usia delapan tahun kebawah, belajar harus berangkat dari minat si anak itu sendiri.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (Asah Pena) Indonesia Dhanang Sasongko berpendapat, sifat dasar anak adalah senang belajar. Itu bisa terlihat sejak usia dini. Dimulai dari anak belajar berjalan, dia jatuh dan bangkit lagi atas kemauan sendiri.

Sayangnya, lanjut dia, ketika anak menginjak usia empat tahunan, banyak terjadi intervensi orang dewasa, dalam hal ini orang tua. Dengan begitu minat belajar anak sesungguhnya itu menjadi terintervensi. Anak belajar karena kewajiban dan dorongan dari orang tua. “Akhirnya dia menjadi tertekan,” kata Dhanang.

Prinsip dasar belajar anak-anak haruslah menyenangkan . Karena dengan belajar menyenangkan akan menumbuhkan emosional yg positif. Dalam proses belajar, anak harus diposisikan sebagai subjek dan bukan objek. Sebaiknya anak belajar atas inisiatif diri sendiri.

Bila dalam proses belajar, si anak menjadi objek, maka yang banyak melakukan intervensi adalah pendidik. Si anak dijadikan robot dan terlalu banyak diarahkan oleh pendidik. Hasilnya akan membuat anak menjadi malas belajar, belajar tidak efektif.

Dalam system belajar, anak harus ikut terlibat dlm proses pembelajaran. Salah satu caranya mungkin sebaiknya dlm satu kelas jangan sampai terlalu banyak siswa. Problem yg akan terjadi akan ada anak-anak yg merasa tidak diperhatikan. Dengan begitu minat belajarnya karena keterpaksaan.

Solusinya, guru dituntut punya kompetensi dengan kondisi-kondisi yg terjadi sekarang ini. Guru perlu memahami bahwa anak didiknya adalah subjek. “Secara psikologi, guru-guru juga harus memahami keanekaragaman minat belajar anak,” ujar Dhanang.

Dia menyarankan , dalam proses belajar perlu dikembangkan metode pelajaran tematik yg aplikatif. Ada pembahasan-pembahasan atas sebuah masalah. Misalkan soal banjir, mungkin saja dari pembahasan itu mundul ide-ide yg luar biasa dan cemerlang dari anak. Atau dlm pelajaran mengenai stek tumbuhan, anak-anak bisa diajak untuk mempraktikkan langsung dilapangan.

Kalaupun tidak bisa melakukan kegiatan praktik diluar ruang, bisa saja dengan cara menyajikan sejumlah materi tematik dan contohnya via media visual di dalam kelas.

Sebagai contoh, Dhanang menunjukkan apa yg sudah dilakukan di sekolah-sekolah alam. Ternyata anak-anak lebih mudah menyerap pelajaran dengan baik dan menyenangkan.
“Belajar tidak hanya teori. Teori dibutuhkan dalam rangka mengejar standardisasi kurikulum. Tapi untuk mencapai tujuan-tujuan itu, perlu ada media belajarnya yg menyenangkan bagi anak,” kata Dhanang.

Sementara itu, marlina, guru sekolah rumah di Perumahan Bumi Sawangan Indah Depok, mengaku punya trik jitu dlm mengajak anak agar tertarik belajar. Sebelum mulai mengajar, terlebih dulu dia harus mengetahui hal-hal apa saja yg disukainya dan tidak disukai.

“Nah, dari situ bila ada anak yg sedang malas belajar, saya mengajak dia melakukan suatu kegiatan yg disukainya,” katanya. Misalnya anak suka menggambar, sebelum mengajak si anak belajar, terlebih dulu dia di ajak menggambar beberapa saat. Selanjutnya , setelah mood belajarnya bangkit. Barulah si anak diajak belajar lagi.

REWARD YES, PUNISHMENT NO

Sebisa mungkin orang tua memberikan reward atau penghargaan kepada anak atas berbagai prestasi yg dilakukan. Sebaliknya sedapat mungkin menghindari bentuk punishment atau hukuman. Sebab, hukuman yg kelewat batas akan membuat harga diri anak down atau turun.

“Jenjang pendidikan anak masih jauh dan panjang, hasil sebuah proses belajar tidak bisa diukur oleh satu hari, satu minggu atau satu bulan. Tapi merupakan proses berkelanjutan. Untuk itu orang tua perlu memberikan reward dan dorongan, “kata Dhanang Sasongko, sekjen Asah Pena Indonesia .

Menurut dia, dasar untuk mendorong minat belajar anak, kita perlu meningkatkan rasa percaya diri anak. Sebagai contoh : bila anak mendapat nilai matematika jelek, 4, orang tua dpt mendorongnya dengan mengatakan: “Oh iya putra/i dapat nilai 4 ya. Tidak apa-apa dulu ayah/ibu juga pernah kok dpt nilai 4 tapi setelah mencoba memperbaikinya, ternyata ayah bisa berhasil dapat angka 8.

Seorang anak tidak mungkin dapat menguasai semua mata pelajaran. Mungkin ada anak yg unggul disatu pelajaran lain. Kemudian orang tua justru memberikan anak les dipelajaran yg lemah tadi. Sedangkan pelajaran yg unggul justru dilupakan.

Menurut Dhanang , ditinjau dari sudut perkembangan anak , apa yg dilakukan orang tua tadi agak keliru . Kenapa bukan keunggulan si anak tadi yg diasah dan dikembangkan terus. Nah, yg kurang itu hanya sebagai pelengkap.

“Jangan sebaliknya malah yg kurang didorong terus dan dipaksakan sehingga anak menjadi tertekan. Akhirnya, anak menjadi stress dan keunggulannya pun akhirnya hilang,” ujarnya.

Mengenai bentuk reward yg kerap diberikan orang tua ketika anaknya berhasil dalam pelajaran sekolah, Dhanang berpendapat, hal itu boleh-boleh saja sejauh dalam rangka menunjang kegiatan belajar si anak.

Namun, dia mengigatkan, sebisa mungkin nilainya tidak terlalu mahal dan terkesan wah bagi si anak. Ini dimaksudkan agar anak punya standar keinginan atas reward-nya . “Reward diberikan hanya dalam rangka memotivasi anak,” tegasnya

Hal terpenting adalah memberikan kasih sayang kepada anak. Terkadang anak berbuat baik, orangtua tidak memberikan reward karena hal itu dianggap biasa saja, tapi manakala si anak berbuat tidak baik, maka orang tua memberikan reaksi luar biasa dengan memberikan punishment.

Dhanang mengatakan, orang tua harus mengubah paradigma terhadap anaknya. Bahwa anak berbuat baik itu bukanlah hal yg biasa, tapi merupakan suatu hal yg luar biasa.

Jawablah pertanyaan anak dengan jujur, santun, an logis.

Otak atau pikiran anak dapat dibandingkan dengan pita kaset atau CD blank.. Jika tidak berhati-hati memberi rekaman suara, kaset itu akan berisi beragam suara yang tidak mengenakkan telinga dan perasaan. Ketika kaset itu sudah berisi suara-suara yang tidak berkualitas tersebut, kita teramat sulit menghapusnya. Jika toh terhapus, pita itu akan rusak. Oleh karena itu, pita kaset itu harus diisi dengan rekaman-rekaman yang baik, indah, menyejukkan, dan menyehatkan diri dan pendengarnya.

Sedemikian halnya dengan otak anak. Mereka mempunyai daya rekam yang luar biasa. Anak-anak mudah sekali meniru suara yang didengarnya. Jika sudah mampu membaca tulisan, anak akan sering bertanya tentang kosakata asing itu. Mereka selalu dipenuhi rasa ingin tahu. Dan itu perlu strategi untuk menjawabnya. Terlebih, kita menjadi orang tuanya.

Menghadapi anak yang super kritis itu, orang tua harus mempunyai strategi bijak agar anak tidak mencari jawaban secara liar. Menurutku, ada tiga strategi untuk menjawab pertanyaan anak yang super kritis itu. Ketiganya adalah menjaga kejujuran, menggunakan bahasa analogi, dan bersikap ramah. Mari kita kupas ketiganya.

Strategi 1: Menjaga Kejujuran

Ketika ditanya anak tentang suatu hal, orang tua harus bersikap jujur. Maksudnya, orang tua harus menjawab pertanyaan itu secara objektif terukur. Orang tua tidak boleh menolak pertanyaan anak. Mereka itu memerlukan jawaban segera. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh menyesatkan pikiran anak dengan jawaban yang mbulet alias bertele-tele alias berbelit-belit. Jawablah pertanyaan anak itu dengan jujur.

Strategi 2: Menggunakan Bahasa Analogi

Pikiran anak belum mampu memahami penalaran tingkat tinggi. Oleh karena itu, pikiran anak perlu dirangsang dengan penalaran analogi. Penalaran analogi adalah pola berpikir yang menggunakan objek lain sebagai pembanding untuk memudahkan pengembangan gagasan. Pernyataan awal tulisan ini dapat digunakan sebagai contohnya, yaitu penggunaan istilah kaset untuk menggantikan istilah otak atau pikiran anak

Strategi 3: Bersikap Ramah

Anak sering bertanya tanpa mempertimbangkan kesopanan atau etika. Mereka hanya berdasarkan insting atau naluri keingintahuan. Jadi, mereka tidak pernah berpikir bahwa pertanyaan itu kurang etis ditanyakan. Namun, rasa ingin tahu membangkitkan keberaniannya untuk bertanya. Maka, orang tua tidak boleh menanggapi pertanyaan itu secara emosional. Orang tua harus bersikap ramah agar anak merasa dilayani.

Agresi atau umum disebut sebagai kenakalan anak-anak di sekolah lumrah ditemui. Agresi dianggap wajar selama tidak mengganggu dan merugikan teman-temannya. Anak yang dekat dengan gurunya ternyata lebih kecil kemungkinannya berbuat nakal atau menjadi terget kenakalan teman-temannya.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Quebec di Montreal, Laval University, University of Alabama, University of Montreal dan University College Dublin menyimpulkan bahwa anak-anak yang memiliki hubungan baik dengan gurunya dapat terlindungi dari agresi dan menjadi target agresi di sekolah.

“Perilaku agresif pada pertengahan masa kanak-kanak sebagian dijelaskan karena faktor genetik, namun pengaruh genetik terhadap perilaku biasanya tidak bebas dari pengaruh lingkungan,” kata Mara Brendgen, profesor psikologi di University of Quebec di Montreal yang memimpin penelitian seperti dilansir ScienceDaily, Jumat (28/10/2011).

Para peneliti mengamati 217 pasang anak kembar identik dan tak identik (kembar fraternal) berusia 7 tahun di Kanada untuk menyelidiki interaksi antara faktor bawaan dan pengaruh lingkungan yang mempengaruhi agresi pada anak. Pasangan kembar tidak berada di kelas yang sama, memiliki guru yang berbeda dan teman sekelas yang berbeda.

Teman sekelas menilai perilaku agresif si kembar dan sejauh mana ia menjadi korban agresifitas teman-temannya. Guru si kembar menilai kualitas hubungan si kembar dengan pasangan kembarnya. Efek genetik agresi diukur dengan membandingkan kesamaan perilaku pasangan kembar identik dan fraternal.

Kajian ini menemukan bahwa anak-anak yang secara genetik rentan menjadi agresif cenderung menjadi korban oleh teman sekelasnya. Namun, anak-anak ini dilindungi dari bertindak agresif dan menjadi target agresi anak-anak lain jika memiliki hubungan yang sangat baik dengan gurunya. Hubungan baik tersebut didefinsiakan sebagai hubungan yang hangat, penuh kasih sayang, dan komunikasi yang terbuka.

“Hubungan anak dengan guru dan dengan teman sebaya di sekolah memainkan peran penting dalam membentuk perilaku sosialnya. Kajian kami menemukan bahwa hubungan yang baik dengan guru dapat melindungi anak-anak yang rentan bertindak agresif dan menjadi target perilaku agresif anak-anak lain,” kata Brendgen.

Temuan ini dapat menginformasikan intervensi yang bertujuan untuk mengatasi agresi anak-anak, dan juga dapat digunakan dalam upaya pelatihan guru.

Dalam 3 tahun pertama punya anak seorang ibu lebih dianjurkan untuk tidur dengan bayinya. Menurut penelitian, anak yang tidur dikeloni ibunya sampai umur 3 tahun cenderung memiliki jantung yang lebih sehat.

Anjuran ini disampaikan oleh Dr Nils Bergman, seorang dokter anak dari University of Cape Torn di Afrika Selatan. Dr Bergman juga dikenal sebagai salah satu pelopor gerakan Kangaroo Mother Care, yang menekankan pentingnya kontak fisik antara ibu dan anak.

Dalam sebuah penelitiannya, Dr Bergman mengamati 16 bayi hingga masing-masing berusia 3 tahun. Saat tumbuh dewasa, bayi-bayi yang tidur seranjang dengan ibunya cenderung pnya jantung yang lebih sehat dibanding bayi yang tidur di ranjang terpisah.

Bukan itu saja, bayi yang ditidurkan di ranjang terpisah cenderung mengalami kerusakan di otak yang memicu gangguan perilaku ketika masuk usia remaja. Pengaruhnya di otak salah satunya tampak pada gangguan pola tidur, yakni cenderung tidak pernah nyenyak.

Berbagai penelitian menunjukkan, pola tidur yang tidak baik memang erat kaitannya dengan kesehatan jantung. Ketika seseorang tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak, maka jantungnya akan bekerja lebih keras sehingga lama-lama bisa mengalami stres.

Meski demikian, anjuran Dr Bergman agar anak abyi tidur dengan ibunya hingga umur 3 tahun diyakini akan memicu kontroversi. Bukan karena para bapak akan merasa iri, melainkan terkait dengan penelitian sebelumnya yang justru menganjurkan agar bayi tidur di ranjang terpisah.

Penelitian yang dilakukan di Inggris beberapa tahun silam itu menunjukkan, 2 dari 3 kematian bayi terjadi ketika tidur dengan orangtuanya. Hasil penelitian itu menjadi dasar bagi sebagian pakar, untuk menganjurkan agar bayi tidak dikeloni supaya tidak tercekik.

Namun Dr Berman bersikeras bahwa sebaiknya bayi tetap tidur dengan ibunya, karena kontak fisik antara ibu dan anak terbukti baik bagi jantung. Terkait dengan kematian bayi saat dikeloni, ia berdalih bahwa kematian itu tidak secara langsung dipicu oleh sang ibu.

“Ketika ada bayi tercekik atau sesak napas saat dikeloni, kebanyakan bukan karena ada ibunya di situ. Bisa karena faktor lain seperti asap beracun, rokok, alkohol atau bantal-bantal besar yang sering membekap jalan napas,” ungkap Dr Bergman seperti dikutip dari Telegraph, Sabtu (29/10/2011).

Menurut Al Qur’an, asal muasal komposisi manusia itu terdiri dari tiga hal yang tidak terpisahkan:
1. Jasad.
2. Ruh.
3. Intelektualitas.
(Lihat QS. As Sajadah: 7-9).

Semua manusia adalah sama dalam komposisi ini. Mereka semua tercipta dan dilahirkan ke alam dunia ini dengan dasar penciptaan dan kehidupan yang tidak berbeda. Kesimpulan ini telah ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai haditsnya, yang artinya :”Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas dasar fithrah. Hanya saja, kedua ibu bapaknya yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi” (hadits)

“Setiap hambaKu Aku ciptakan dengan kesiapan menjadi lurus (baik). Hanya saja, syetan-syetan menjadikan mereka tergelincir (dalam kesesatan)” (hadits Qudsy).

Bahkan Al Qur’an itu sendiri dengan tegas menyatakan bahwa komposisi penciptaan yang sempurna ini (ahsanu taqwiim) dan diistilahkan dengan “fithrah Allah” (insaniyah/kemanusiaan), tidak mungkin terganti atau terubah. Lihat QS: Ar Ruum: 30. Hakikat ini terkadang pula disebut “Sunnatullah” (hukum Allah). Lihat QS: Al Ahzaab: 33, QS: Faathir: 35, dan QS: Al Fath: 48.

ARTI DAN FUNGSI PENDIDIKAN

Jika dasar kemanusiaan (komposisi penciptaan/fithrah) manusia tidak dapat berubah dan berganti, lalu apa arti dari suatu pendidikan ?. Telah kita singgung terdahulu bahwa pendidikan atau tarbiyah berasal dari kata “rabaa-yarbuu-riban wa rabwah” yang berarti “berkembang, tumbuh, dan subur”. Dalam Al Qur’an, kata “rabwah” berarti bukit-bukit yang tanahnya subur untuk tanam-tanaman. Lihat QS: Al Baqarah:265. Sedangkan kata “riba” mengandung makna yang sama. Lihat QS: Ar Ruum:39.

Dengan pengertian ini jelas bahwa mendidik atau “rabba” bukan berarti “mengganti” (tabdiil) dan bukan pula berarti “merubah” (taghyiir). Melainkan menumbuhkan, mengembangkan dan menyuburkan, atau lebih tepat “mengkondisikan” sifat-sifat dasar (fithrah) seorang anak yang ada sejak awal penciptaannya agar dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik. Jika tidak, maka fithrah yang ada dalam diri seseorang akan terkontaminasi oleh “kuman-kuman” kehidupan itu sendiri. Kuman-kuman kehidupan inilah yang diistilahkan oleh hadits tadi dengan “tahwiid” (me-yahudi-kan) “tanshiir” (me-nasrani-kan) dan “tamjiis” (me-majusi-kan).

Pada hadits yang lain disebutkan “ijtaalathu as Syaithaan” (digelincirkan oleh syetan). Kuman-kuman kehidupan atau meminjam istilah hadits lain “duri-duri perjalanan” (syawkah) tentu semakin nyata dan berbahaya di zaman dan di mana kita hidup saat ini. Masalahnya, apakah kenyataan ini telah membawa kesadaran bagi kita untuk membentengi diri dan keluarga kita ?. “Wahai orang-orang yang beriman , jagalah diri-diri kamu dan keluarga-keluarga kamu dari api neraka”. (QS: At Tahriim:6).

AL QUR’AN DAN PENDIDIKAN ANAK

Ummat Islam saat ini nampaknya membuktikan prediksi Rasulnya empat belas abad yang lalu. Dalam haditsnya Rasulullah menjelaskan: “Suatu saat kamu akan menjadi seperti buih di tengah samudra luas. Terombang-ombang oleh ombak serta mengikut ke arah mana jalannya angin. Para sahabat bertanya: Apakah karena kami sedikit ketika itu wahai Rasulullah ? Tidak, namun kamu ditimpa penyakit “wahan”. Para sahabat bertanya: Apakah penyakit wahan itu wahai Rasulullah ? Beliau menjawab: Hubbu ad Dunya wa karaahiyat al Maut (Cinta dunia dan benci mati)” (hadits).

Cinta dunia yang berlebihan, sebagai konsekwensi logis dari tertanamnya faham materialisme dalam diri kita melahirkan sikap-sikap yang seolah-olah kita akan hidup seribu tahun lagi (abadi). Lihat QS: Al Humazah: 2-3.

Sikap yang demikian pula yang menyebabkan kita menyikapi pendidikan anak-anak kita seolah-olah tak ada aspek lain dalam hidupnya kecuali memburu dunia dengan segala manifestasinya. Sehingga kita bersikap buta hati terhadap kisah Ibrahim dan Ya’quub untuk menghayati bagaimana mereka telah mendidik anak keturunan mereka.

Al Qur’an mengisahkan, Ibrahim dan Ya’qub senantiasa mewasiatkan anak-anaknya tentang agama ini. “Sungguh Allah telah memilih bagimu agama ini, maka janganlah sekali-kali kamu mati kecuali telah berislam secara benar” (QS: Al Baqarah: 132). Bahkan Ya’qub AS disaat-saat menjelang maut menjemputnya, menyempatkan diri bertanya kepada anak-anaknya: “madzaa ta’buduuna min ba’di” (Apa gerangan yang akan kamu sembah setelah kematianku) ?”. Lihat QS: Al Baqarah:133.

Gambaran Ibrahim dan Ya’qub AS di atas mengajarkan betapa besar perhatian mereka terhadap kelestarian kesadaran beragama bagi anak-anak mereka. Sebaliknya, ummat Muslim saat ini seolah-olah telah mengganti ayat “maadza ta’buduuna” (apa yang kamu sembah) dengan kata-kata “maadza ta’kuluuna” (apa yang akan kamu makan setelah aku meninggal). Kepedulian terhadap kelangsungan kesadaran beragama anak-anak kita sangat minim. Sebagai ilustrasi, seringkali jika anak kembali dari sekolah yang ditanyakan adalah nilai berapa yang kamu dapatkan ? Sementara shalatnya tidak terpedulikan sama sekali.

Perhatikan kebanggaan seorang orang tua bila anaknya meraih suatu predikat kesarjanaan (Dr, MBA, dst). Namun alangkah sedikitnya yang menyadari kiranya predikat -predikat tersebut dapat menjadi jembatan kebahagiaan anaknya dunia-Akhirat, serta menjaganya dari jilatan api neraka. Kesadaran kita terhadap doa sapu jagad kita (memohon kebajikan dunia-Akhirat) masih berada di sekitar lingkaran lisan kita. Sementara dalam fakta sikap kita menunjukkan bahwa kita menghendaki dunia semata.

PENDIDIKAN ISLAM SIFATNYA TERPADU

Telah disebutkan terdahulu bahwa Islam memandang pendidikan sebagai sesuatu yang identik dan tidak terpisahkan dari asal muasal penciptaan manusia/ fithrah/ insaniyah manusia itu sendiri, yakni terdiri dari tiga hal: Jasad, Ruh, dan Intelektualitas.

Dengan demikian, pendidikan dalam pandangan Islam meliputi tiga aspek yang tidak dapat dipilah-pilah :

1. Pendidikan jasad (tarbiyah jasadiyah),
2. Pendidikan Ruh (tarbiyah ruhiyah),
3. Pendidikan intelektualitas (tarbiyah ‘aqliyah).

Ketiga bentuk pendidikan tersebut tidak mungkin dan tak akan dibenarkan pemilahannya dalam ajaran Islam. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan, pendidikan berhubungan langsung dengan komposisi penciptaan/kehidupan manusia. Memilah-milah pendidikan manusia, berarti memilah-milah kehidupannya. Hakikat inilah yang menjadi salah satu rahasia sehingga wahyu dimulai dengan perintah “Iqra” (membaca), lalu dikaitkan dengan “khalq” (ciptaan) dan “Asma Allah” (Bismi Rabbik). Lihat QS: Al ‘Alaq: 1-5. Maksudnya, bahwa dalam menjalani kehidupan dunianya, manusia dituntut untuk mengembangkan daya inteletualitasnya dengan suatu catatan bahwa ia harus mempergunakan sarana “khalq” (ciptaan) sebagai object dan “Asma Allah” (ikatan suci dengan Nama Allah/hukumnya) sebagai acuan. Bila ketiganya terpisah, akan melahirkan, sebagaimana telah disinggung terdahulu, suatu ketidak-harmonisan dalam kehidupan manusia itu sendiri.

DASAR-DASAR PENDIDIKAN ANAK DALAM AL QUR’AN

Dasar-dasar pendidikan anak dalam Islam dapat disimpulkan dari berbagai ayat, antara lain QS: Luqman: 12 – 19 dan QS: As Shafaat: 102, serta berbagai hadits Rasulullah SAW. Kisah Luqman yang oleh sebagian ulama digelari dengan “al hakiim” atau “Luqman yang bijaksana” mengajarkan bahwa sifat bijak bagi seorang pendidik termasuk para orang tua adalah suatu keharusan. Luqman yang memang secara khusus dikaruniai ni’mat “hikmah” oleh Allah itu menyadari sepenuhnya bahwa anak adalah bagian dari keni’matan Ilahi yang menjadi cobaan (fitnah) atasnya. Oleh sebab itu ia menanamkan pendidikan kepada anaknya sebagai manifestasi kesyukurannya terhadap Allah Pemberi ni’mat. (ayat: 12)

Berikut ini adalah dasar-dasar pokok pendidikan anak yang tersimpulkan dari berbagai ayat Al Qur’an dan Sunnah Rasul SAW :

1. Mananamkan nilai “tauhidullah” dengan benar.

2. Mengajarkan “ta’at al waalidaen” (mentaati kedua orang tua), dalam batas-batas ketaatan kepada Pencipta, sebagai manifestasi kesyukuran seseorang kepada Ilahi.

3. Mengajarkan “husnul mu’asyarah” (pergaulan yang benar) serta dibangun di atas dasar keyakinan akan hari kebangkitan, sehingga pergaulan tersebut memiliki akar kebenaran dan bukan kepalsuan.

4. Menanamkan nilai-nilai “Takwallah”.

5. Menumbuhkan kepribadian yang memiliki “Shilah bi Allah” yang kuat (dirikan shalat).

6. Menumbuhkan dalam diri anak “kepedulian sosial” yang tinggi. (amr ma’ruf-nahi munkar).

7. Membentuk kejiwaan anak yang kokoh (Shabar).

8. Menumbuhkan “sifat rendah hati” serta menjauhkan “sifat arogan” .

9. Mengajarkan “kesopanan” dalam sikap dan ucapannya.
{Kesembilan poin tersebut di atas disimpulkan dari QS. Luqmaan: 12-19}.

10. Sedangkan QS: As Shafaat: 102, mengajarkan “metodologi” pendidikan anak. Ayat ini mengisahkan dua hamba Allah (Bapak-Anak), Ibrahim dan putranya Ismail AS terlibat dalam suatu diskusi yang mengagumkan. Bukan substansi dari diskusi mereka yang menjadi perhatian kita. Melainkan approach/cara pendekatan yang dilakukan oleh Ibrahim dalam meyakinkan anaknya terhadap suatu permasalahan yang sangat agung itu. Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa metode “dialogis” dalam mengajarkan anak sangat didukung oleh ajaran Islam. Kesimpulan ini yang pula menolak anggapan sebagian orang, bahwa Islam mengajarkan ummatnya otoriter, khususnya dalam mendidik anak.

11. Pendidikan hendaknya dimulai sejak dini, sehingga tertanam kebiasaan dalam diri anak sejak kecil. Kebiasaan ini kelak akan menjadi kesadaran penuh saat anak telah mencapai usia akil baligh. Dalam hadits nabi, yang artinya, dijelaskan :”Suruhlah anak-anak kamu shalat jika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur sepuluh tahun (apabila masih tidak melakukannya)”
Pukulan yang disebutkan pada hadits tersebut hendaknya ditafsirkan sesuai dengan situasi dimana kita hidup. Pertama, tentu pukulan tersebut bukanlah suatu pukulan yang sifatnya “siksaan”. Melainkan pukulan yang bersifat “didikan” semata.

Kedua, pukulan ini tidak selamanya diartikan dengan pukulan “fisik”. Melainkan dapat pula diartikan dengan pukulan “psykologis” atau kejiwaan. Sebagai misal, jika anak kita senang piknik di hari libur, dan hal ini bila piknik tersebut sebelumnya sudah menjadi kebiasaan keluarga, maka jika mereka tidak melakukan kewajiban agamanya (shalatnya) maka kebiasaan piknik itu dapat dihentikan sementara. Menghentikan piknik bagi anak-anak yang sudah terbiasa dengannya dapat menjadi pukulan bathin bagi mereka.

12. Tegakkah shalat berjama’ah di rumah tangga masing-masing. Untuk anak laki-laki tentu berjama’ah di masjid adalah yang paling afdol, sedang untuk anak perempuan lebih afdolnya berjama’ah di rumah. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :”Sinarilah rumah kamu dengan shalat” Menghidupkan shalat berjama’ah di rumah memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan kejiwaan seorang anak.

13. Tanamkan cinta Al Qur’an dalam diri anak sedini mungkin. Al Qur’an adalah kalam Ilahi yang bukan saja sebagai petunjuk (hudan), melainkan juga sebagai “Syifaa limaa fis Shuduur” (obat terhadap berbagai penyakit kerohanian), dan “Nuur” (cahaya/pelita hati). Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :”Barangsiapa yang tidak ada Al Qur’an di hatinya maka ia seperti rumah runtuh”.

14. Membiasakan praktek-praktek sunnah dalam kehidupan keseharian. Misalnya makan dengan membaca “Bismillah” dan doa, mengakhirinya dengan “Al Hamdulillah” dan doa, masuk/keluar rumah dengan salam, dll. Menghapalkan doa-doa sejak dini juga memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kejiwaan anak.

15. Yang terakhir dan yang terpenting adalah hendaknya para orang tua menjadi “tauladan” (uswah) bagi kehidupan anak-anaknya. Hidupkan agama Allah dalam diri kita, keluarga kita, insya Allah dengan izinNya anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran keagamaan yang tinggi. Janganlah seperti apa yang biasa terjadi di sekitar kita, dimana orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah Al Qur’an, agar anaknya belajar shalat, namun orang tuanya sendiri justeru mengabaikan Al Qur’an, dan shalatnya juga seringkali diabaikan.

16. Memperbanyak doa. Bagaimanapun juga usaha manusia sifatnya terbatas. Namun dengan pertolongan Allah, sesuatu dapat berubah di luar perkiraannya. Oleh sebab itu, doa dalam hidup kita sangat penting untuk menunjang usaha-usaha yang kita lakukan.

Akhirnya hanya kepadaNya semata kita bergantung dan berserah diri. Semoga Allah senantiasa menanamkan kesadaran kepada kita semua untuk mendidik anak-anak kita menjadi harapan masa depan ummat. Yang terpenting, demi keselamatan keluarga dari jilatan api neraka. “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kamu dan keluargamu dari api neraka”. Bersihkanlah jalanan (kehidupan) anak kita dari kuman-kuman yang merusak. Tanamkan benteng penjaga ketakwaan dan keimanan yang kokoh, pedang keilmuan yang tajam, sarana ibadah yang mantap, strategi akhlaq yang mulia dalam kehidupan anak kita. Wassalam. –
(oleh : M.Syamsi Ali – New York,18 Mei 1999).

[sumber : Makalah Seminar Pendidikan Anak yang diadakan bersamaan dengan acara Musyawarah Tahunan IMAAM (Indonesian Muslim Association of America) Washington tanggal 22 Mei 1999, M. Syamsi Ali adalah ustadz asal makasar, anggota ISNET, dan tinggal di New York].
http://media.isnet.org/isnet/Syamsi/didik.html

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 040/th.04/Jummadil Akhir-Rajab 1429H/2008M

Menjadi orang tua bukanlah suatu hal yang mudah. Seringkali kita tidak mengenali karakter anak kita meskipun kita sering bersama mereka. Hal-hal kecil yang sering kita abaikan, terkadang merupakan hal yang paling penting bagi anak. Masalah komunikasi merupakan hambatan yang sangat berpengaruh bagi sebuah hubungan yang sehat. Terkadang kita bertanya-tanya, bagaimana ya cara kita berkomunikasi agar pendapat kita bisa didengarkan anak? Seberapa jauh sih kita mengenal karakter anak kita?

Di Jepang, mengetahui karakter seseorang lewat golongan darah merupakan sebuah tradisi yang sudah umum. Tetapi, karekter berdasarkan golongan darah ini tidak mutlak dimiliki oleh orang bergolongan darah tertentu, tetapi ada kecenderungan yang menjadi pembawaannya. Dengan mengetahui kelebihan dan kelemahan anak, kita bisa mengenal isi hati anak yang menjadi kunci untuk membangun kepribadian mereka.

Anak yang bergolongan darah O

Karakteristik temperamen :
– Gairah hidupnya sangat tinggi (aktif, mempunyai cara tertawa yang khas, berorientasi pada hasil)
– Memiliki keinginan yang kuat untuk mencapai apa yang diinginkan
– Ekspresi dan pola pikirnya diungkapkan dengan tidak berbelit-belit
– Memiliki rasa percaya diri dan ekspresi diri yang kuat
– Memilih teman dengan dilandasi oleh hubungan kekuasaan yang kuat
– Mudah tersentuh atau tersinggung, tetapi mudah juga melupakannya
– Senang bicara

Tingkah laku yang terlihat pada anak :
– Bersahabat, dan terkadang manja
– Menyenangi kontak fisik
– Memiliki keinginan yang kuat untuk memonopoli orang atau benda
– Pandai membuat cerita
– Sangat antusias untuk makan
– Sangat peduli dengan kompetisi

Cara menegur
– Tunjukkan sedikit kemarahan saja, dan jangan lupa untuk mengatakan, ;karena saya mengasihi kamu;

Bagian yang perlu diperhatikan
– Agar tidak tampak berlebihandalam menyikapi kesalahannya, tunjukkan juga tindakan yang penuh kasih sayang.
– Bantu dia untuk menunjukkan kemampuannya dalam menolong orang lain.

Anak yang bergolongan darah A

Karakteristik temperamen :
– Memiliki keinginan yang kuat untuk membantu
– Sensitif terhadap perubahan lingkungan sekitar
– Dapat mengontrol emosi dan keinginan
– Menghargai aturan
– Perfeksionis

Tingkah laku yang terlihat pada anak:
– Memiliki keinginan kuat untuk membantu
– Berkelakuan baik
– Bisa bekerja sama saat melakukan aktivitas bersama teman lain
– Sangat menjaga apa yang sudah ditetapkan dan diajarkan
– Sensitif terhadap perkataan orang lain

Cara menegur :
– Puji sisi baiknya terlebih dahulu, setelah paham akan persoalannya, beritahukan kekurangannya secara baik-baik

Bagian yang perlu diperhatikan:
– Bersikap sabar terhadapnya
– Anak ini memiliki dedikasi dan keinginan yang kuat untuk membantu

Anak yang bergolongan darah B

Karakteristik temperamen:
– Senantiasa melakukan sesuai apa yang disukai, mereka tidak suka dibatasi
– Berfikir dengan cara yang fleksibel
– Mudah membuka hati untuk orang lain
– Optimis

Tingkah laku yang terlihat pada anak:
– Memiliki ide yang berani dan bebas
– Antusias terhadap apa yang disukainya
– Walaupun bersama-sama dengan orang lain dalam kelompoknya, biasanya mereka melakukan aktivitasnya sendiri
– Pemalu
– Tidak bisa stabil, tidak mau dikontrol

Cara menegur :
– Karena intonasi suara yang keras tidak terlalu berpengaruh, ajarkan suatu hal berkali-kali tanpa kenal lelah

Bagian yang perlu diperhatikan:
– Aktivitas dan ide yang fleksibel
– Berikan pujian pada saat mereka sedang melatih kemampuan dan talenta mereka

Anak yang bergolongan darah AB

Karakteristik temperamen :
– Memiliki pemikiran rasional
– Terkadang memiliki emosi yang stabil, tetapi juga kadang-kadang tidak stabil
– Bersikap lembut dan baik hati, pandai membuat keputusan terhadap suatu situasi, tidak suka sikap yang cenderung menyanjung.
– Senang melayani

Tingkah laku yang terlihat pada anak:
– Sejak kecil tidak terlalu manja
– Anak yang pemalu tapi sekaligus juga anak yang ceria, penuh rasa humor, lucu
– Memiliki kebiasaan berfantasi

Cara menegur :
– Jangan membentak dan memarahi, berikan pengertian dengan mengajaknya berdiskusi. Hanya saja berhati-hatilah,
jangan sampai menjawab dengan terlalu enteng.

Bagian yang perlu diperhatikan :
– Perasaan yang lembut terhadap orang maupun alam, keinginan untuk melayani di lingkungan social
– Berikan penghargaan pada upayanya, meskipun tampak kecil.

Nah parent, dengan lebih mengetahui karakter anak kita melalui golongan darah, kita bisa semakin mengerti perasaan anak kita. Sehingga akan terjalin komunikasi yang sehat antara kita sebagai orang tua dan anak-anak kita. Dan dengan mengenali karakter anak kita, kita bisa menggali lebih dalam kemampuan anak Sukses selalu bagi kita semua.

Sumber :
– Seminar “Melejitkan Kecerdasan Anak” oleh Ibu Yemima Tri Wuryani (Psikolog).
– Touch my heart, karangan Toshitaka Nomi.